fbpx
Categories
Information

10 Risiko Olahraga Menyelam dan Tips Mengatasinya

Menyelam memang suatu kegiatan seru. Keindahan alam bawah laut menggoda untuk diselami dan dieksplorasi lebih jauh. Meski menyenangkan, penting diketahui apa saja risiko olahraga menyelam.

Nyaris sama dengan berbagai olahraga ekstrim lain, menyelam tidak sepenuhnya lepas dari bahaya. Justru sebaliknya. Terdapat berbagai bahaya yang menanti saat menggeluti olahraga dan kegiatan satu ini.

Risiko olahraga menyelam datang dari berbagai hal. Serangan hewan laut saat di dalam samudera merupakan salah satunya. Selain juga sederet risiko lain yang dapat mempengaruhi kesehatan. Baik itu kesehatan tubuh sampai mental.

Demi menjaga keselamatan dan kesehatan selama menyelam, berikut ini merupakan deretan risiko yang harus diwaspadai. Selain itu juga bagaimana cara mengatasi serta solusi dari risiko tersebut.

10 Risiko Olahraga Menyelam yang Harus Diwaspadai

selam

  1. Barotrauma

Perbedaan dan perubahan tekanan yang terjadi selama menyelam menjadi sebuah permasalahan sendiri. Ketika tubuh gagal beradaptasi dengan perbedaan tekanan tersebut, berbagai gangguan kesehatan mungkin akan terjadi. Salah satunya merupakan barotrauma.

Barotrauma merupakan rasa tidak nyaman bahkan sakit yang dialami di telinga. Perubahan tekanan secara cepat dan kegagalan tubuh untuk menyeimbangkan tekanan dari luar menjadi penyebab utama dari penyakit ini.

Barotrauma bukan hanya menghadirkan rasa tidak nyaman. Sakit di telinga yang parah, salah satunya karena perbedaan tekanan terlalu besar, bisa menyebabkan kerusakan pada telinga dan jaringan paru-paru. Paru-paru yang mengalami luka dan kerusakan jaringan menjadi salah satu penyebab utama pneumotoraks.

Bagi penyelam, rasa sakit bahkan tidak nyaman pada tubuh tidak bisa diabaikan. Untuk menghindari terjadinya barotrauma, penyelam dapat melakukan equalising. Equalising atau sering dikenal juga dengan dekompresi ini merupakan metode untuk menyesuaikan antara tekanan di luar tubuh dengan telinga.

Cara melakukan equalising dengan menutup kedua lubang hidung, baik itu dengan cara mencubit atau menekan. Kemudian meniup udara keluar. Equalising seharusnya dilakukan berkala sejak penyelam turun ke dalam air. Hingga proses naik dan turun selama penyelaman.

  1. Tinnitus

Rasa tidak nyaman pada telinga dan tenggorokan saat menyelam bukan hanya karena barotrauma. Bisa juga disebabkan tinnitus. Tinnitus merupakan rasa tidak nyaman yang dibarengi dengan telinga berdenging. Tinnitus sendiri bukanlah sebuah penyakit. Melainkan lebih pada gejala dari beberapa penyakit lain.

Telinga berdenging yang dialami penyelam disebabkan karena beberapa hal. Bisa karena perbedaan tekanan dari luar yang mendorong udara pada liang telinga. Sehingga muncul sensasi rasa tertekan dan sakit pada telinga sampai kepala. Penyebab tinnitus satu ini sering kali diiringi dengan penyakit vertigo.

Selain itu tinnitus juga disebabkan adanya gangguan di eustachia pipe atau saluran eustachius di telinga. Gangguan ini juga sering muncul pada penyelam karena perubahan tekanan dari bawah air.

Tekanan besar dari luar saat menyelam di dalam air bisa menyebabkan membran telinga robek. Terutama bila penyelam sedang sakit pilek, flu, alergi, atau adanya penyumbatan di sinus.

  1. Vertigo

Mengalami pusing dan rasa berputar ketika menyelam menjadi gejala serius terjadinya barotrauma. Vertigo sering terjadi ketika telinga mengalami perubahan tekanan dengan besar dan cepat. Hingga terjadi cedera di liang telinga tengah serta dalam.

Vertigo yang dialami penyelam, terutama saat berada di bawah air bisa sangat berbahaya. Resiko snorkeling dan diving ini menyebabkan penyelam mengalami disorientasi. Penyelam akan kesulitan menentukan arah untuk naik ke permukaan laut. Bisa juga menyebabkan panik yang akan mengancam keselamatan.

Selain itu, rasa pusing, mual, dan muntah yang menjadi gejala vertigo berisiko membuat penyelam tenggelam. Terutama bila penyelam mengalami muntah dan tersedak.

Untuk menghindari vertigo selama penyelaman bukan hanya harus melakukan equalising untuk meringankan barotrauma. Penyelam juga wajib memastikan diri dalam keadaan fit sebelum menyelam.

Jika sedang sakit kepala, meriang, atau mengalami reaksi alergi sebaiknya tidak memaksakan diri untuk menyelam.

  1. Emboli

Barotrauma yang menyebabkan penyelam mengalami pneumotoraks bisa menjadi bahaya lain. Kolaps paru-paru yang disebabkan karena luka dan kerusakan jaringan membuat gelembung udara bisa masuk ke dalam aliran darah.

Gelembung udara yang menjadi substansi tidak larut ini akan menjadi sumbatan di pembuluh darah. Menyebabkan peredaran tidak lancar.

Ketika peredaran darah tidak lancar, organ dalam tubuh pun akan kekurangan oksigen. Berbagai masalah kesehatan akan muncul karena terjadi emboli di tubuh. Salah satunya permasalahan neurologis seperti stroke.

Emboli paru dan emboli arteri merupakan dua penyakit berbahaya yang menjadi risiko menyelam. Substansi tidak terlarut yang masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan emboli bisa berupa bekuan darah, cairan amnion, sampai gelembung udara dan nitrogen.

Gejala awal terjadinya emboli, terutama pada penyelam seperti kesulitan bernafas, rasa nyeri di dada, tekanan darah menurun. Sampai denyut jantung menjadi cepat.

  1. Barodontalgia

Barodontalgia yang disebut juga dengan tooth squeeze ini merupakan salah satu penyakit lain yang kerap dialami oleh penyelam. Terlebih pada penyelam yang mengalami infeksi pada gigi, gigi berlubang, atau baru melakukan prosedur cabut dan tambal gigi sebelum menyelam.

Keadaan pada gigi tersebut memungkinkan ada udara yang terjebak di rongga-rongga gigi. Sehingga penyelam akan mengalami rasa nyeri di area gigi.

Barodontalgia paling sering terjadi saat menyelam naik ke atas permukaan air. Gejala dari barodontalgia selain rasa nyeri di area gigi tersebut, juga mengalami pendarahan di area gigi yang berlubang atau baru dicabut serta di gusi.

  1. Hipotermia

Hipotermia menjadi resiko snorkeling dan diving berikutnya yang juga membahayakan keselamatan jiwa. Hipotermia bukan hanya bisa dialami saat menyelam di perairan dingin. Walau menyelam dalam air dingin dan temperatur rendah memang akan jauh lebih berisiko menderita hipotermia.

Penyakit ini terjadi karena suhu tubuh menurun drastis dari normal. Hipotermia ringan terjadi ketika suhu tubuh turun sekitar 1-20 derajat celcius. Sedangkan bila suhu tubuh turun hingga 30 derajat celcius, maka hipotermia yang dialami sudah berat.

Gejala utama terjadinya hipotermia merupakan menggigil. Bila suhu tubuh terus menurun dan penyelam mengalami hipotermia berat maka akan mengalami mati rasa, gerakan yang semakin melambat, bahkan juga kesadaran yang menurun.

Cara mengatasi hipotermia paling utama adalah menghentikan penyelaman dan segera naik ke permukaan ketika tubuh mulai menggigil. Selain itu pastikan untuk menggunakan pakaian selam yang tepat.

Untuk menyelam di air dingin dan bersuhu rendah digunakan dry suit yang cukup tebal. Lengkap dengan penutup kepala. Mengingat kepala memiliki potensi terbesar kehilangan panas tubuh.

Memilih kualitas dry suit yang digunakan juga sangat krusial untuk menghindari terjadi hipotermia.

  1. Penyakit Dekompresi

Penyumbatan aliran darah dan sistem saraf karena gelembung udara bisa menyebabkan penyakit dekompresi. Penyakit ini karena banyaknya akumulasi nitrogen terlarut dalam tubuh setelah menyelam.

Berbeda dengan beberapa penyakit yang sering dialami penyelam lain, dekompresi memang seringnya terjadi bukan saat penyelaman.

Akumulasi dari nitrogen yang terlarut di dalam tubuh menimbulkan gelembung udara, yang akhirnya menyumbat sistem saraf dan aliran darah. Keadaan ini bisa menyebabkan berbagai penyakit. Tergantung pada berapa akumulasi nitrogen di tubuh serta organ yang mengalami penyumbatan.

Seringnya penyakit dekompresi akan mempengaruhi keadaan sendi hingga menimbulkan mati rasa sampai kelumpuhan. Sering juga penyakit dekompresi muncul sebagai ruam kulit, disfungsi kerja sumsum tulang belakang. Hingga permasalahan di otak dan paru-paru.

  1. Toksisitas Oksigen

Bagi deep water diver atau penyelam di air dalam, toksisitas oksigen menjadi momok menakutkan. Keracunan oksigen sering terjadi saat menyelam pada kedalaman lebih dari 42 meter.

Pada kondisi kedalaman ekstrim ini akan lebih banyak oksigen yang dihirup oleh penyelam. Akibatnya bisa menyebabkan keracunan.

Toksisitas oksigen menjadi lebih menyeramkan karena terjadi dengan cepat. Tanpa gejala atau peringatan. Penyelam akan mengalami tunnel vision, yang menyebabkan pandangan periferal hilang. Jadi pandangan mata fokus seperti terowongan.

Keracunan oksigen juga ditunjukkan dengan rasa mual, kejang, hilang kesadaran, otot berkedut, dan tenggelam.

Cara mengatasi risiko menyelam satu ini hanya dengan menaati batas kedalaman yang diberikan. Penyelam sebaiknya tidak memaksakan diri menyelam terlalu dalam lebih dari kemampuan dan kapasitas tubuh.

selam

  1. Narkosis Nitrogen

Narkosis nitrogen terjadi dengan gejala dan penyebab berbeda-beda saat menyelam. Umumnya, penyelam akan mengalami efek seperti mengkonsumsi narkotika dari akumulasi nitrogen di tubuh.

Efek ini cukup normal dialami bukan hanya oleh penyelam saja. Mereka yang pernah mendapatkan bius gas nitrat oksida, seperti di dokter gigi, juga akan merasakan sensasi dan efek yang sama.

Hanya saja untuk penyelam, narkosis nitrogen memiliki risiko lebih besar. Akumulasi nitrogen dalam konsentrasi besar di tubuh bisa menyebabkan persepsi sensorik dan kerusakan akal.

Di sisi lain selain karena akumulasi nitrogen, narkosis nitrogen juga bisa terjadi saat menyelam pada kedalaman lebih dari 30 meter.

Tekanan di bawah laut yang meningkat mengubah gas nitrogen di dalam tangki. Saat penyelam menghirup campuran oksigen dan nitrogen dari tangki akan menimbulkan gejala seperti mabuk.

Gejala lain yang timbul karena narkosis nitrogen seperti euforia, halusinasi, disorientasi yang sangat berbahaya dalam penyelaman. Sampai hilangnya ingatan untuk jangka pendek dan kesulitan berkonsentrasi.

Pada kasus narkosis nitrogen yang sangat parah, bahaya lain yang muncul seperti koma sampai meninggal dunia.

  1. Depresi

Gangguan kesehatan mental sebagai risiko olahraga menyelam bukan hanya akibat dari narkosis nitrogen. Barotrauma yang menyebabkan kekurangan oksigen menyebabkan depresi.

Salah satu tips diving yang diberikan organisasi menyelam untuk menghindari depresi dengan memberi jangka waktu. Menyelam sebaiknya dilakukan lagi setelah 12 sampai 18 jam. Demi menghindari terjadi masalah kesehatan mental.

Tips dan Cara Mengatasi Risiko Menyelam

Risiko menyelam memang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Meski ada beberapa cara mengatasi risiko menyelam agar tidak membahayakan keselamatan diri. Berikut ini beberapa diantaranya:

  1. Pastikan tubuh dalam keadaan sehat dan fit. Sebaiknya tidak menyelam bila sedang sakit atau mengalami alergi.
  2. Cek kembali keamanan peralatan yang digunakan apakah sudah sesuai standar.
  3. Lakukan ekualising sejak sebelum menyelam, dan selama proses turun dan naik kembali ke permukaan. Naik sedikit ke arah atas bila gagal melakukan equalising. Ini berarti tubuh tidak berhasil menyesuaikan tekanan.
  4. Jangan memaksakan diri menyelam di luar ketentuan yang diberikan. Ikuti petunjuk instruktur dan perhatikan parameter batas kedalaman saat menyelam.
  5. Bernafas secara normal selama proses menyelam. Terutama saat naik ke permukaan. Saat menyelam memang sebaiknya tidak menahan nafas karena meningkatkan resiko snorkeling dan diving.
  6. Tidak panik atau gugup. Jika mengalami masalah saat menyelam, berikan tanda isyarat tangan kemudian naik ke permukaan secara perlahan. Panik justru akan memunculkan bahaya lain saat penyelaman.

Sebagai olahraga ekstrim, memang terdapat berbagai risiko menyelam. Rasa tidak nyaman dan sakit pada telinga, hidung, sampai tenggorokan tidak boleh diacuhkan selama proses menyelam. Selain itu juga kenali apa saja gejala yang mungkin muncul dari risiko tersebut.

Mengetahui cara mengatasi serta mematuhi tips diving yang dianjurkan akan memudahkan saat menyelam. Serta tentunya menjaga agar penyelaman tetap aman dan terhindar dari risiko olahraga menyelam.

Selamat menyelam dan salam bahari Indonesia!

Baca Juga : Inilah 10 Manfaat Diving Untuk Kesehatan

Blublub Indonesia